oleh Studens Philosophiae
Artikel ini adalah balasan ke artikel oleh ‘Islam Aceh Menjawab’ yang itu sendiri adalah jawaban terhadap artikel saya yang berjudul ‘Ledakan Dahsyat (Big Bang)’ di blog ‘Menggugat Cocologi’. Artikel ‘Islam Aceh Menjawab’ tersebut diberi judul ‘Membantah tulisan Studens Philosophiae tentang Big Bang’ yang dapat diakses di sini:http://www.facebook.com/notes/islam-aceh-menjawab/membantah-tulisan-studens-philosophiae-tentang-big-bang/253688701432998
Artikel saya yang disanggah oleh ‘Islam Aceh Menjawab’ ada di sini: http://cocologi.tumblr.com/post/24724190960/ledakan-dahsyat-big-bang
Ayat-ayat pertama yang digunakan oleh penulis artikel tersebut (yakni Al-Waqiah: 69, Qaaf: 9, Ath-Thuur: 44, Ar-Rahmaan: 33, Ar-Rahmaan: 37, An-Nuur: 35, Al-Baqarah: 22) mendukung kesimpulan saya. Malah penulis mengakuinya sendiri dengan ini:
“Penulis artikel tidak percaya adanya langit yang berupa benda padat, dari sini menunjuki bahwa si penulis artikel adalah bukan orang Islam. Karena banyak ayat-ayat Alqur’an yang menyebutkan adanya langit berupa benda padat, berpintu yang dijelaskan ketika Nabi Muhammad Isra’ Mikraj.”
Kemudian penulis merujuk kepada Al-Baqarah: 144 sebagai contoh penggunaan kata samaa’ yang bertentangan dengan hipotesis saya. Namun, sebetulnya tidak ada pertentangan sama sekali. Ayat itu menggambarkan Muhammad membolak-balikkan pandangannya ke langit, ini tidak kontradiktif dengan pernyataan saya. Di ayat tersebut tidak diimplikasikan bahwa langit itu suatu ilusi, tidak pula mengimplikasikan bahwa langit bukanlah padat. Ayat itu hanya menunjukkan arah pandangan Muhammad (Dalam Kamus Lane’s Arabic Lexicon, kata ‘fii’ dapat bersinonim dengan ‘ilaa’), yang sah saja dipahami sebagai kepada sesuatu yang padat/konkrit/non-abstrak.
Poin 5 dari artikel tersebut, asersi bahwa definisi yang telah saya berikan justru bertolak belakang dengan kesimpulan yang saya hasilkan itu tidak berdasar. Sebagaimana yang saya jelaskan di atas, langit sebagai arah pandangan tidak menegasikan bahwa ia padat. Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Big Bang, dalam hal ini penulis melakukan kesalahan logika ‘non sequitur’, yaitu bukti yang diajukan (ayat tersebut yang diklaim menunjukkan langit sebagai sesuatu yang non-padat) tidak berhubungan dengan argumennya (deskripsi samaa’ dalam Al-Qur’an sesuai dengan Big Bang). Dan penulis pun tidak menjelaskan darimana kesimpulannya itu didapat.
Mengenai Poin 6, saya tahu ayat itu. Dan ia tidak kontradiktif dengan asersi saya. Jika maksud mengutip ayat itu adalah pada aspek ‘menyelidiki secara mendalam’, saya sendiri sudah mengantisipasinya dengan studi literatur terhadap beberapa tafsir klasik Islam Sunni seperti Tafsir Ibnu Kathir (Katsir, dalam ejaan Indonesia), dan mengecek ulang setiap detail klaim saya dengan kamus bahasa Arab Klasik, sehingga saya dalam pribahasa Inggris “standing on the shoulders of giants”, yakni saya sudah mendasarkan apa yang saya tulis dengan mereka yang ahli dan sudah memikirkannya secara mendalam.
Setelah itu penulis melanjutkan dengan mengutip ayat-ayat yang random mengenai langit dan hampir tidak bersinggungan dengan artikel saya. Jawaban/sanggahan saya sampai di sini.
————————————-
Selain jawaban ini, saya juga ingin menunjukkan beberapa kesalahan faktual dalam artikel tersebut. Walaupun tidak berhubungan tepat dengan artikel saya, anggap saja ini sebuah koreksi yang mudah-mudahan akan bermanfaat.
Penulis artikel menunjukkan sebuah foto dari NASA berupa galaksi Bima Sakti dan menghubungkannya dengan Ar-Rahmaan ayat37. Masalahnya, pertama, ayat tersebut menggambarkan adegan pada hari Kiamat, sementara foto tersebut adalah foto galaksi yang kita tempati ini yang sudah berumur jutaan tahun. Kedua, potret-potret luar angkasa oleh NASA itu sering menggunakan warna buatan untuk mempermudah atau ‘mempercantik’ gambar. Sementara warna galaksi Bima Sakti itu dominan putih, terutama jika dilihat dari perspektif lain:http://www.universetoday.com/21563/milky-way/
Ketiga, galaksi adalah kumpulan bintang-bintang, adalah suatu kesimpulan yang dipaksakan untuk menghubungkannya dengan kata ‘langit’.
Masalah faktual lainnya adalah mengutip surah An-Nuur ayat 35 dan mengatakan bahwa itu contoh ‘samaa’ bercahaya. Semua deskripsi yang berhubungan dengan cahaya di ayat itu merujuk kepada Allah bukan kepada langit, dan maknanya pun bukan harfiah karena di ayat itu disebutkan “Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki”.
Selain itu, penulis tampaknya menganggap bahwa ‘muzn’ adalah sinonim dari ‘samaa’’ sebagaimana terkutip di sini:
“Dari beberapa ayat diatas menunjukkan adanya perbedaan makna [samaa’] ketika menjelaskan turunnya air. Ada kalimat [samaa’] dan ada kalimat [muzni]”
Sementara jika dilihat di kamus atau bahkan di terjemahan manapun, kata ‘muzn’ merujuk kepada awan mendung, sebagian dari sampelnya dapat dilihat di sini: http://tinyurl.com/asgjtdk
Disalin dari http://www.faktailmiah.com/2010/08/27/perkembangan-embrio-manusia-sains-vs-mitologi.html (sudah mendapat izin) sebagai penjelasan lanjutan dari penjelasan bagian satu.
![]()
Dalam artikel ini faktailmiah.com memeriksa kesesuaian klaim Quran dan Srimad Bhagavatam mengenai tahapan-tahapan embriologi. Mari kita kritisi bersama
Beberapa teman mengajukan klaim kalau ada kesesuaian nyata tanpa cela antara perkembangan embrio manusia yang ditunjukkan teks kuno pada kami. Tentu saja, klaim demikian wajar untuk diperiksa secara kritis akan kebenarannya. Karenanya kami tanpa ragu memeriksa beberapa literatur ilmiah modern mengenai embriologi dan membandingkannya dengan teks kuno yang diajukan ke kami. Dua teks kuno yang akan diperiksa dalam studi banding ini adalah Al Quran dan Srimad Bhagavatam. Perlu ditekankan bahwa yang di kritisi di sini adalah perkembangan embrio manusia, bukan asal usul embrio manusia. Untuk membahas asal usul embrio manusia, anda bisa membaca artikel berikut : Apakah manusia dulunya mani?
Sekarang perkembangan embrio manusia menurut Al Quran dan Srimad Bhagavatam
Al Qur’an
Dalam Al Quran, perkembangan embriologi manusia yang paling jelas dinyatakan dalam surah Al Hajj ayat 5, dan al Mu’minun 13-14. Lebih lengkapnya disini : http://quran.myquran.org/?
Perkembangan tersebut antara lain
Mengenai waktunya tidak ditentukan dalam Quran.
Srimad Bhagavatam
Penjelasan kronologis lengkap dalam teks India kuno ini dapat ditemukan dalam Srimad Bhagavatam 3.31.2-4, 10, 22-23. Berbeda dengan Quran yang kabur, Kronologi Srimad Bhagavatam sangat detil, dari urutan hingga waktu terjadinya. Perlu diketahui kalau Srimad Bhagavatam di tulis pada abad ke sembilan Masehi [1]atau sekitar 300 tahun setelah Al Quran.
Lebih lengkapnya disini : http://www.srimadbhagavatam.org/canto3/chapter31.html
Sains Modern
Setelah mendapatkan gambaran di atas, mari kita izinkan sains modern yang berbicara. Nomer urut menunjukkan tahapan pengembangan embrio sementara hari dihitung semenjak fertilisasi. Pada umumnya fertilisasi terjadi dua minggu setelah haid terakhir calon ibu.
Setelah anda melihat garis waktu yang ditunjukkan sains, apakah sains modern dapat disejajarkan dengan teks kuno? Jelas tidak. Sains modern sangat detil dan teknis, penuh ketelitian dan tanpa ambiguitas. Tapi, marilah kita cek apa memang klaim teks kuno benar mengenai perkembangan embrio manusia.
Sains vs Quran
Kita ulangi lagi tahapan-tahapan pembentukan embrio manusia menurut Quran.
Sains vs Srimad Bhagavatam
Sebenarnya, apa yang membedakan sains dan teks religius adalah ketelitian dan kepastian definisi yang dimilikinya. Anda mungkin sedikit garuk-garuk kepala melihat istilah-istilah medis yang ada di atas, tapi istilah medis tersebut perlu untuk menghindarkan kesalah pahaman. Hal ini yang tidak dimiliki oleh teks kuno. Lihat saja istilah segumpal darah atau gelembung. Gelembung seperti apa? Segumpal darah yang bagaimana? Sains memberikan penjelasan secara detil, sementara teks kuno membiarkan imajinasi pembacanya menerawang dan memberikan penafsiran sesukanya asal sesuai dengan sains. Inilah wishful thinking atau cocologi. Bila anda mencoba membawa klaim religius ke dalam sains, maka siaplah untuk mendapatkan kritik sebagaimana klaim ilmiah hadapi setiap saat. Bila anda mencoba mengambil penjelasan sains untuk mendukung klaim religius anda, anda tampaknya lebih mempercayai sains daripada klaim religius dan berarti anda secara tidak sadar mengakui kalau sains lebih superior. Sains tidak memerlukan dukungan agama, sebaliknya tampak kalau agama berusaha mendapatkan dukungan sains. Mengambil penjelasan sains untuk mendukung klaim religius juga menunjukkan kalau anda tidak beriman karena masih membutuhkan penjelasan ilmiah atas sesuatu yang seharusnya anda percayai begitu saja.
Referensi
[1] Bryant, Edwin Francis (2007). Krishna: A Sourcebook. Oxford University Press US
Setelah ramai tentang kebohongan dan kesalahan “Demitri Bolykov” yang dimuat oleh Detik dan Republika, ternyata kedua media tersebut juga telah menyebarkan hoax bahwa Jacques Cousteau menjadi mualaf. Berikut adalah tautannya: http://ramadan.detik.com/read/2012/08/19/200639/1995122/631/3/para-ilmuwan-ini-menjadi-muslim-setelah-melakukan-riset-ilmiah dan http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/03/05/m0erg1-subhanallah-inilah-mukjizat-alquran-tentang-pertemuan-dua-lautan
Di artikel tersebut, diklaim bahwa Cousteau terkagum-kagum dengan “dinding pemisah antara air tawar dan air asin” dan kesesuaiannya dengan ayat Al-Furqan 53 serta Ar-Rahman 19-20, sehingga ia masuk Islam. Namun, hal ini adalah hoax, dan, seperti yang akan dijelaskan, “dinding pemisah” di Terusan Suez maupun Selat Gibraltar bukanlah “dinding pemisah” dalam arti yang sebenarnya.
Mualaf?
Apakah benar Cousteau sudah menjadi mualaf? WikiIslam.net sudah membantahnya secara lengkap, sehingga saya hanya perlu menerjemahkannya saja. (sumber: http://wikiislam.net/wiki/Jacques_Cousteau_%28Conversion_to_Islam%29 )
Klaim bahwa Cousteau menjadi mualaf adalah hoax karena:
1. Masyarakat Cousteau (awalnya dinamai “Yayasan Cousteau” hingga tahun 1992) didirikan oleh Jacques-Yves Cousteau sendiri dan saat ini dikepalai oleh istri keduanya Francine Cousteau.[1] Surat klarifikasi berikut (bertahun 1991) yang ditulis oleh Didier Cerceau dari Masyarakat Cousteau menyatakan bahwa Cousteau tidak menjadi mualaf. Perlu dicatat bahwa dokumen berikut merupakan komunikasi resmi dengan Yayasan Cousteau dan Cousteau sendiri tidak membantahnya.
Karena suratnya dalam bahasa Perancis, berikut adalah terjemahannya:
Monsieur Charles TUCKER 11A Chemin de Pennachy 69230 ST GENIS LAVAL
FC/DC
Paris, 2 November 1991
Tuan, Kami telah menerima surat dari Anda dan kami berterima kasih karena sudah tertarik kepada aktivitas kami. Kami mengatakan dengan gamblang kepada Anda bahwa Komandan Cousteau tidak pernah menjadi Muslim dan rumor ini menyebar tanpa landasan apapun.
Dengan ramah tamah,
Didier CERCEAU
chargé de mission
2. Majalah Forbes melaporkan pada tanggal 18 Mei 2004 bahwa, meskipun rumornya menyebar di dunia Islam, keluarga Cousteau “kerap menampiknya”:
Selama berdekade-dekade, sebagai pelopor penjelajahan bawah laut sistematis, penemu Aqua-Lung dan pemimpin pelestarian ekologi laut, Jacques Cousteau adalah pahlawan media global. Dokumenter perjalanannya di bawah laut telah ditonton di mana TV berada. Di dunia Muslim, rumor bahwa ia menjadi mualaf sebelum meninggal masih menyebar, meskipun keluarganya secara hormat kerap menampiknya.[2]
3. Teks berikut telah menyebar secara luas di Internet dan dikatakan merupakan kutipan Cousteau yang mengungkapkan pilihannya atas Islam setelah mengetahui bahwa dua samudra tidak bercampur, yang sesuai dengan Quran.
“In 1962 German scientists said that the waters of the Red Sea and the Indian Ocean did not mix with each other in the Strait of Bab-ul-Mandab where the Aden Bay and the Red Sea join. So we began to examine whether the waters of the Atlantic Ocean and the Mediterranean mixed with each other. First we analyzed the water in the Mediterranean to find out its natural salinity and density, and the life it contained. We repeated the same procedure in the Atlantic Ocean. The two masses of water had been meeting each other in the Gibraltar for thousands of years. Accordingly, the two masses of water must have been mixing with each other and they must have been sharing identical, or, at least, similar properties in salinity and density. On the contrary, even at places where the two seas were closest to each other, each mass of water preserved its properties. In other words, at the point where the two seas met, a curtain of water prevented the waters belonging to the two seas from mixing. When I told Professor Maurice Bucaille about this phenomenon, he said that it was no surprise and that it was written clearly in Islam’s Holy Book,the Qur’an al-karim. Indeed, this fact was defined in a plain language in the Qur’an al-karim. When I knew this, I believed in the fact that the Qur’an al-karim was the ‘Word of Allah’. I chose Islam, the true religion. The spiritual potency inherent in the Islamic religion gave me the strength to endure the pain I had been suffering for the loss of my son.”
Namun, kutipan ini diambil dari “The Reasons Why They Become Muslims”, buku Turki yang diterbitkan oleh Waqf Ikhlas Publications, dan tidak dikaitkan dengan Cousteau oleh sumber terpercaya manapun.
4. Jacques-Yves Cousteau sendiri meninggal akibat serangan jantung pada tanggal 25 Juni 1997 di Paris pada usia 87 tahun. Ia tidak dikubur secara Islami, tetapi secara Katolik Roma. Ia dimakamkan di permakaman keluarga di Saint-André-de-Cubzac, Perancis.[3]
Maka, jelas bahwa klaim kemualafan Cousteau tidak memiliki landasan apapun dan bisa dikatakan sebagai sebuah hoax.
Dinding Pemisah
Pada entri sebelumnya, Studens Philosophiae sudah membantah cocologi ayat di Al-Furqan dan Ar-Rahman dengan dinding laut pemisah. Berikut adalah salinan ulang ulasannya:

Ada sebuah cocologi yang mencocok-cocokan ayat dalam Al-Furqan 53 dan Ar-Rahman 19-20 dengan sebuah fenomena di antara Sungai Nil dengan Laut Merah seperti yang tampak pada gambar di atas. Ayat Al-Furqan berbunyi, “Dan Dialah (Allah) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang satu tawar dan segar dan yang lainnya asin. Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus”, sementara ayat Ar-Rahman berbunyi “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”
Sayangnya ada fakta sains yang akan meruntuhkan cocologi ini. Foto di atas kalau dilihat secara superfisial memang seakan ada pembatas sehingga kedua air (asin dan tawar) tidak bercampur (لا يبغيان). Namun pada kenyataanya melalui penelitian, air laut yang asin dan air sungai yang tawar itu bercampur dan daerah pencampuran ini disebut ‘estuary’. Jika laut, salinitasnya 35, sementara air tawar tingkat salinitasnya 0,5. Tapi di daerah estuary itu selalu antara dua angka tersebut.[4] Selain itu, di foto tersebut estuary sungai Nil tidak membentuk batasan yang permanen dengan Laut Merah, tetapi hanya merupakan perbedaan tingkat salinitas yang sementara dan air laut beserta garamnya bercampur dengan air tawar yang mengalir dari Nil secara perlahan-lahan. Ini jelas tidak sesuai dengan kedua ayat yang menekankan ketidakbercampuran (لا يبغيان).
Simpulan
Klaim mengenai kemualafan Cousteau tampaknya hanyalah hoax yang tidak jelas kebenarannya, dan organisasi resmi yang didirikan Cousteau sudah menekankan bahkan pada saat Cousteau masih hidup bahwa beliau tidak pernah menjadi mualaf. Sementara itu, pencocok-cocokan ayat Al-Furqan dan Al-Rahman dengan estuary patut ditolak karena di estuary manapun, baik di laut Merah maupun di selat Gibraltar, tidak ada dinding batas yang “tidak tembus” atau ‘tidak dilampaui” antara air tawar dan air asin, tetapi yang ada adalah gradasi tingkat salinitas yang variatif.
Dengan begini kita bisa melihat Detik dan Republika lagi-lagi kewalahan karena tidak menyeleksi dan memeriksa ulang dahulu kebenaran konten beritanya. Demi kredibilitasnya, ada baiknya agar kedua media membuat klarifikasi. Dan semoga kita semua juga bisa menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran agar menjadi lebih kritis, skeptis, dan selektif dalam memilah informasi, apalagi mengingat banyaknya ensiklopedia dan jurnal ilmiah yang bisa kita akses dengan gratis untuk pemastian. Seperti kata Bung Karno, “tidak semua yang ada di Internet itu benar, anak Indonesia harus bisa memilih.” Dan jikalau Anda kritis, selektif, dan tidak sekadar menelan informasi mentah-mentah, Anda akan tahu bahwa kutipan barusan saya karang karena pada zaman Bung Karno belum ada Internet. Tapi poinnya adalah, kritis itu sangat penting karena:
“Dengan meragukan, kita akan mencapai kebenaran” - Rene Descartes
“If we are not able to ask skeptical questions, to interrogate those who tell us that something is true, to be skeptical of those in authority, then we’re up for grabs for the next charlatan, political or religious, who comes ambling along.” - Carl Sagan
Catatan kaki
[1] http://fr.wikipedia.org/wiki/%C3%89quipe_Cousteau
[2] http://www.forbes.com/2004/05/18/cx_mk_0518feat.html
[3] http://www.findagrave.com/cgi-bin/fg.cgi?page=gr&GRid=9889
[4] http://fds.oup.com/www.oup.com/pdf/13/9780198525080.pdf
oleh Jessica Siscawati dan Auditory Pasta
The world is still deceiv’d with ornament,
In law, what plea so tainted and corrupt,
But, being season’d with a gracious voice,
Obscures the show of evil? In religion,
What damned error, but some sober brow
Will bless it and approve it with a text,
Hiding the grossness with fair ornament?
~ William Shakespeare
Beberapa waktu lalu dunia maya Indonesia dihebohkan dengan foto-foto palsu “pembantaian Rohingya”. Beberapa foto yang sama sekali tak berhubungan, seperti foto aktivis Tibet yang sedang protes membakar diri dengan bendera Tibet jelas berkibar di latar belakangnya, diklaim sebagai Muslim Rohingya yang sedang “dibantai” di Myanmar. Untungnya, bantahan terhadap foto-foto palsu tersebut sudah disebarluaskan.[1]
Menyebarkan kebohongan semacam ini jelas merupakan tindakan yang tidak terpuji dan dapat memprovokasi. Namun, tampaknya bangsa kita kurang dapat menjadikan hal ini sebagai pelajaran untuk menjadi kritis dan skeptis terhadap segala hal. Lagi-lagi, kebohongan disebarkan (ironisnya pada bulan Ramadhan ini), dan banyak orang yang sejauh ini percaya saja. Yang patut disayangkan adalah, kali ini penyebarnya adalah dua media yang cukup besar di Indonesia yaitu Republika dan Detik. Kebohongan yang disebarkan pun modusnya mirip dengan kasus foto Rohingya, yaitu penggunaan foto yang tak berhubungan dan penyebaran informasi yang salah. Seperti apa? Simak kedua gambar ini:

Tautan aslinya: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/08/13/m8l2t8-ahli-fisika-ini-jadi-mualaf-karena-matahari-mengapa-1 (penulis Endah Hapsari) dan http://ramadan.detik.com/read/2012/08/16/112331/1993014/631/4/para-ilmuwan-ini-menjadi-muslim-setelah-melakukan-riset-ilmiah992204cbr (penulis Sukma Indah Permana)
(Addendum dari penulis: Setelah pemaparan kami di sini menyebar dengan luas, tercatat pada tanggal 19 Agustus 2012 sore menjelang malam, Detik sudah menghapus artikelnya, sementara Republika mengubah gambarnya walaupun masih ngotot memajang artikelnya yang, seperti yang kami paparkan di bawah, juga ngawur. Sangat disayangkan belum ada pertanggungjawaban dari kedua media tersebut melalui permintaan maaf kepada Professor Sean Ling serta publik yang menjadi korban. Tapi satu hal yang pasti, peristiwa memalukan ini telah terekam oleh screenshot di atas)
(Addendum 2: ternyata Detik tidak menghapus artikelnya, tetapi mengganti tautannya ke http://ramadan.detik.com/read/2012/08/19/200639/1995122/631/5/para-ilmuwan-ini-menjadi-muslim-setelah-melakukan-riset-ilmiah dan juga mengganti gambarnya. Sangat disayangkan artikel menyesatkannya tidak dihapus, dan sejauh ini mereka belum meminta maaf kepada korban terutama Professor Sean Ling. Ada baiknya momen Idul Fitri ini dimanfaatkan dengan baik.)
Seperti yang bisa dilihat, Detik dan Republika melaporkan bahwa seorang professor fisika Ukraina yang bernama Demitri Bolykov menjadi mualaf setelah percobaannya membuktikan bahwa Matahari bisa terbit dari barat. Simaklah kedua gambar di atas, dan perhatikan foto “Demitry Bolykov” yang dipasang. Tanpa bermaksud rasis, penulis cocologi.tumblr.com sejak awal sudah curiga karena yang disebut adalah peneliti berkebangsaan Ukraina, tetapi wajahnya oriental. Ternyata, setelah melakukan pencarian, ditemukan bahwa foto itu merupakan foto orang lain, yaitu foto Professor Xinsheng Sean Ling dari Universitas Brown. Untuk memeriksanya, bukalah tautan ke situs resmi Universitas Brown ini http://research.brown.edu/research/profile.php?id=1132089494 http://www.physics.brown.edu/physics/userpages/faculty/Sean_Ling/ling.htm dan ini adalah fotonya bersama rekannya di Pittsburgh http://www.physics.brown.edu/physics/userpages/students/Sungcheol_Kim/ling/index.html Penulis sendiri juga menemukan akun facebook pribadi Professor Xinsheng Sean Ling, dan tentu saja telah melaporkan peristiwa tak terpuji ini, namun karena alasan privasi tautan akunnya tidak akan penulis bagikan.
BUKAN Demitry Bolykov! Foto Professor Sean Ling yang sembarangan diambil.
Sangat disayangkan media sebesar Republika dan Detik melakukan hal seperti ini. Selain melanggar hak cipta, tindakan ini bisa membuahkan gugatan hukum dari Professor Xinsheng Sean Ling. Tapi tunggu dulu, ternyata informasi yang dimuat oleh Republika dan Detik juga merupakan kesalahan yang fatal.
Pertama-tama, nama Professor Demitry Bolykov dan teorinya “gerak integral elektro magno-dinamika” tidak dapat ditemukan di situs dan jurnal ilmiah manapun. Pencarian terhadap nama Nicolai Kosinikov juga tidak membuahkan hasil. Penelusuran di google hanya menunjukkan tautan dari situs-situs blog yang melaporkan kemualafan sang professor. Dari sini sudah cukup mencurigakan dan sudah merupakan modus hoax untuk mengarang nama seseorang yang tampak ahli.
Kemudian, apabila membaca pemaparan teori sang professor, tampak bahwa professor itu, kalaupun memang ada, merupakan professor gadungan karena kontennya penuh dengan kesalahan. Mari kita ulas satu per satu.
Sampel bola
“Peneliti ini merancang sebuah sempel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan dan ditempatkan pada badan bermagnet yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.”
Terdapat beberapa keganjilan dalam penjelasan di atas. Elektroda adalah kutub, untuk menciptakan sebuah kutub pada rangkaian listrik, maka kita harus membuka rangkaian tersebut (open circuit) dan dengan demikian menghentikan arus yang mengalir. Jika tidak ada arus yang mengalir (terdapat kutub / elektroda) maka bagaimana bisa ada arus yang saling berlawanan?
“Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya.”
Sekali lagi ada keganjilan dalam kalimat ini. Dikatakan arus listrik berjalan pada dua elektroda. Dengan mengacu pada penjelasan sebelumnya, maka harus ditanyakan arus mengalir dari katode menuju anode (sedangkan elektron sebaliknya) melalui media apa? Apakah tegangan antar elektroda tersebut begitu tinggi hingga terjadi lompatan api? Akan lebih masuk akal kalau elektroda ini kita ganti dengan seutas kawat dengan arus bolak balik, atau dua utas kawat dengan arus yang berlawanan arah. Tapi tentunya saya tidak bisa mengubah eksperimen ini tanpa mengubah hasil eksperimennya.
Paling tidak beberapa bagian dari kalimat tersebut mengandung kebenaran, misalnya arus listrik memang bisa menimbulkan medan elektromagnet dengan arah yang ditentukan oleh aturan tangan kanan. (buatlah simbol like facebook dengan tangan kanan, jempol adalah arah arus, jari lainnya yang berputar adalah arah medan magnet)
Kemudian, jika kita mengabaikan penjelasan di atas dan tetap memaksa untuk menerima penjelasan tulisan tersebut, tetap ada bagian yang tidak masuk akal, yaitu bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut berputar pada porosnya ketika arus mengalir (kalau memang bisa mengalir).
Gaya apa yang menyebabkan putaran ini? Dengan minimnya informasi yang diberikan oleh kalimat ini, saya hanya bisa mengasumsikan bahwa papan-papan tipis dari logam tersebut terinduksi oleh medan magnet, sehingga termagnetisasi dan terdorong oleh gaya tarik menarik yang dihasilkan oleh elektromagnet dan papan logam.
Namun ,siapapun yang pernah melakukan percobaan sederhana mengenai elektromagnet juga tahu kalau seutas kawat (apalagi elektroda tanpa arus) tidak akan menghasilkan gaya magnet yang besar. (kecuali tegangannya luar biasa besar sekali banget) Salah satu kunci membentuk elektromagnet yang kuat adalah jumlah kumparan yang banyak.
Baik, kita asumsikan bahwa eksperimen ini menggunakan arus yang sangat besar sehingga menciptakan gaya magnet yang besar juga pada seutas kawat tanpa kumparan.
Lalu bagaimana cara menjelaskan putaran bola tersebut?
Seperti yang kita tahu, magnet akan tarik menarik antar kutub yang berlawanan, dan tolak menolak pada kutub yang sama. Pada benda-benda yang sifatnya feromagnetik, yang terjadi sebetulnya adalah benda tersebut terinduksi atau termagnetisasi akibat medan magnet yang mempengaruhinya, sehingga muncul kutub utara dan selatan pada benda tersebut yang mengakibatkan tarik menarik antara dua kutub yang berlawanan (seakan-akan terdapat dua magnet dengan kutub yang berlawanan).
Jika arah medan magnetnya tidak pernah berubah, maka jelas yang terjadi adalah logam menempel pada magnet, titik. Tidak akan terjadi putaran apapun pada benda tersebut. Sedangkan jika arah medan magnetnya berubah (seperti medan magnet yang dihasilkan oleh kawat yang dialiri arus bolak balik / AC) apa yang akan terjadi? Ternyata medan magnet yang berubah-ubah itu juga mengakibatkan kutub-kutub dari logam yang terinduksi berubah tempat. Sehingga tetap tidak akan terjadi perputaran.
“Fenomena ini dikenal dengan istilah “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”. Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya. Menurut Bolykov, pada realita di alam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak” yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya.”
Seperti yang sudah dikatakan di atas, setelah melakukan penelusuran di google, tidak ada satu pun dokumen atau jurnal ilmiah yang menjelaskan Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika (selain salin tempel artikel bersangkutan)
Selain itu, fakta yang paling penting sebenarnya adalah bahwa sumbu rotasi Bumi sama sekali tidak dipengaruhi oleh gaya yang dihasilkan oleh magnet maupun listrik baik dari bumi maupun matahari.[2] Fakta ini sangat fatal, karena sang pembuat hoax sudah membuat karangan panjang tentang medan magnet, tetapi sayangnya salah sasaran.
Maka, simpulannya adalah:
1. Eksperimen di atas adalah eksperimen-eksperimenan yang tidak jelas praktikalitasnya dan tidak ilmiah.
2. Hoax di atas dengan mudah gugur karena adanya fakta bahwa rotasi Bumi bukan dipicu oleh magnet.
Kesalahan interpretasi data
Di artikel Detik dan Republika (bagian 2), data dari NASA bahwa kutub magnetik sedang bergeser dari Amerika Utara ke Siberia 40 km per tahun dicatut. Namun, jelas si penulis dan si professor gadungan (kalaupun memang ada) tidak paham perbedaan antara true magnetic pole atau kutub magnetik yang sesungguhnya dengan true pole atau kutub sesungguhnya yang berkaitan dengan poros rotasi. Data yang dimiliki NASA berkaitan dengan pergeseran kutub magnetik, bukan pergeseran poros rotasi Bumi.[3] Perlu dicatat bahwa pergeseran (bahkan pembalikan) kutub magnetik Bumi telah terjadi beberapa kali dalam sejarah Bumi selama 4,5 miliar tahun tanpa implikasi yang berarti selain mengubah arah kompas dan igneous basalt yang membeku di dasar laut Bumi yang membuat ilmuwan tahu bahwa kutub magnetik pernah bergeser.[4] Seperti yang bisa dilihat di diagram sejarah Bumi berikut (sumber: Wikimedia Commons), warna hitam merupakan saat kutub magnetnya sama dengan sekarang. Maka, jelas bahwa pencatutan data ini salah sasaran karena tidak berhubungan sama sekali dengan perubahan arah rotasi yang akan membuat matahari terbit dari barat.
Apakah arah rotasi Bumi bisa berubah?
Agar arah rotasi Bumi bisa berubah sehingga Matahari terbit dari barat, kemiringan sumbu Bumi harus sangat ekstrem seperti Venus yang inklinasinya 177 derajat. Saat ini, kemiringan sumbu Bumi adalah sekitar 23,4 derajat, dan akan tetap stabil dalam angka itu karena perturbasi dan interaksi dengan Bulan.[5]
Syarat agar kemiringan Bumi bisa seekstrem Venus adalah harus ada energi sebesar 2,1 x 1029 joule, dan energi sebesar itu hanya bisa didapat dari tabrakan dengan benda langit yang massanya 5% Bumi. Akan tetapi, sejauh ini asteroid (kini tak lagi dikategorikan sebagai asteroid tapi sebagai planet katai) terbesar yaitu Ceres massanya hanya 0,0158% Bumi. Jadi kemungkinan terjadinya sangat kecil dan tampaknya tak akan terjadi dalam jutaan tahun ke depan, kecuali jika kita kembali ke masa cakram-cakram protoplanet miliaran tahun silam.
Meskipun kemungkinan terjadi ada walaupun sangat kecil, tetapi hal tersebut tidak akan sesuai dengan Hadits Menurut Ibnu Kathir:
“Abdullah bin Abu-Owfa reported: I heard the Messenger of Allah صلى الله عليه وسلم say, Verily a night equivalent to three of your nights will come upon people. When it comes, those who engage themselves in worship during the night will recognize it. A person will stand in prayer, read a section of the Quran and then go to sleep. Thereafter, he will wake up, stand in prayer and read a section of the Quran, then go to sleep. While this condition remains, the people will begin to shout, scream and call one another. They will say, “What is this?” With fear, they will run to the mosque. To their surprise, they will see that the sun has risen from the West. When it reaches the middle of the sky, it will return and set in the West.” He said صلى الله عليه وسلم , “That is when becoming a believer (in Islam after witnessing this Sign) will no longer be of benefit (because after the sun rises from the West, Allah will no longer accept declarations of faith ).”[6]
Seperti yang bisa dibaca, matahari akan terbit dari Barat, lalu setelah mencapai tengah langit akan tenggelam kembali ke Barat. Namun, apabila Bumi ditabrak oleh benda langit yang cukup besar, perubahan arah rotasi akan berlangsung selamanya hingga ada energi besar yang mampu memicu pergeseran itu lagi! Dan kemungkinan agar Bumi bisa ditabrak dua benda langit yang sangat besar dalam waktu yang berdekatan seperti itu sangat sangatlah kecil, sehingga segala upaya cocologi rotasi retrograde tidak akan pernah berhasil.
Sains dan agama tidak dapat dicocok-cocokan karena, seperti kata Stephen Jay Gould dalam usulan NOMA (non-overlapping magisteria)-nya, keduanya berada di ranahnya masing-masing. Upaya pencocokan pun pada akhirnya hanya akan berakhir pada penistaan agama, karena seperti kata Karl Popper sains bersifat harus selalu bisa difalsifikasi, sehingga ketika teori sains salah maka ayat Quran yang dicocokan juga menjadi salah, sehingga kehilangan wibawanya. Selain itu, pencocok-cocokan Quran dengan sains hanya akan menjatuhkan kredibilitas Quran karena dibuat mengikuti ke manapun arah sains bergerak.
Yang membuat artikel Detik dan Republika semakin buruk lagi adalah penggunaan foto Professor Sean Ling secara sembarangan dan menyebarkan kebohongan tentang keberadaan professor palsu serta konjekturnya yang salah fatal. Maka dari itu penulis berharap agar kedua media ini segera mengklarifikasikan tulisan mereka dan membuat pernyataan maaf kepada Professor Sean Ling secara terbuka apabila tidak ingin kehilangan kredibilitasnya.
[1] http://www.dw.de/dw/article/0„16174131,00.html
[2] Merrill, Ronald T.; McElhinny, Michael W.; McFadden, Phillip L. (1996). “Chapter 8”. The magnetic field of the earth: paleomagnetism, the core, and the deep mantle. Academic Press. ISBN 978-0-12-491246-5.)
[3] http://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2003/29dec_magneticfield/
[4] http://dx.doi.org/10.1016%2Fj.jhevol.2006.07.007
[5] http://www.imcce.fr/Equipes/ASD/person/Laskar/misc_files/Laskar_Joutel_Robutel_1993.pdf
[6] Al-Bidaya wa An-Nihaya karya Ibn Kathir

Sebelumnya saya pernah menerjemahkan bantahan untuk cocologi “Bulan Memantulkan Cahaya Matahari” di tautan berikut: http://cocologi.tumblr.com/post/25545289516/bulan-memantulkan-cahaya-matahari Rekan saya Studens Philosophiae menambahkan addendum untuk itu:
// The Arabic word for the moon is qamar and it is described in the Qur’aan as muneer, which is a body that gives nur i.e. light. Again, the Qur’aanic description matches perfectly with the true nature of the moon, which does not give off light itself and is an inert body that reflects the light of the sun. //
Muneer (منير ) is the present participle of nawwara (نوّر ), and I check the dictionary it says:
//and المِصْبَاحَ ↓ نوّر, (Msb,) He made the lamp to give light; or to become bright.//
So when we ignite the lamp we’re reflecting light to it instead of making a light for it?
http://www.perseus.tufts.edu/hopper/text?doc=Perseus%3Atext%3A2002.02.0039%3Aentry%3DAnAr
//The Arabic word for the sun in the Qur’aan, is shams. It is referred to as siraaj, which means a ‘torch’ or as wahhaaj which means ‘a blazing lamp’ or as diya which means ‘shining glory’. All three descriptions are appropriate to the sun, since it generates intense heat and light by its internal combustion.//
Siraaj in the dictionary:
//سِرَاجٌ ذ a word of well-known meaning; (S, O, K;) i. q. مِصْبَاحٌ [i. e. A lamp, or its lighted wick, (the latter of which meanings is assigned to both of these words by Jel in xxiv. 35,)] (L, Msb, TA) that gives light by night: //
It also gives light! Which means it can use the verb “nawwara” and it can assume the active participle “muneer”!
How about diyaa?
//ذ and ↓ ضُوْءٌ and ↓ ضِيَآءٌ (S, M, O, K) and ↓ ضِوَآءٌ , (M, K,) the last of which is [erroneously] written in the L ضَوَآءٌ, (TA,) signify the same, (S, M, O, K,) i. e. Light, syn. نُورٌ, (K, TA,) accord. to the leading lexicologists;//
So according to the majority of the experts it is synonimous with ‘noor’.
While…
//and some say that الضَّوْءُ signifies that [light] which subsists by itself, as [that of] the sun, and fire; and النُّورُ, to that which subsists by some other thing [as does the light of the moon]. (MF, TA.)//
… only a few of them contrast it as such; that ‘noor’ is a reflected light or light from other source. Why pick the weaker opinion when there are stronger ones? Because you want your a priori conclussion true?
See also this:
//نُورٌ ذ Light; syn. ضِيَآءٌ, (S,) or ضَوْءٌ; (M, A, Msb, K;) whatever it be; (M, A, K;) contr. of ظُلْمَةٌ: (Msb:) //
Which not only corroborates that ‘noor’ is a synonim of ‘diyaa’, but it is also the default word for describing ANY kind of light (i.e. the antonim of dh.ulmah: darkness). So it is strange to call ‘noor’ as a specific kind of light, that is the reflected one. Which also explains why it is in the minority of opinion while the overwhelming majority say they are mere synonim.
oleh Jessica Siscawati
Astronom dan astrolog pada masa silam telah bertanya-tanya mengapa planet-planet kadangkala tampak melakukan gerak maju mundur atau retrograde di langit. Ptolomeus, dalam model geosentrisnya yang menempatkan Bumi sebagai pusat peredaran, mengusulkan bahwa planet-planet tersebut sedang mengitari lintasan melingkar kecil yang disebut epicycle. Copernicus dengan model heliosentris yang menempatkan Matahari sebagai pusat peredaran pun masih menggunakan gagasan yang sama. Sayangnya, mereka berdua salah, dan saat ini ilmu astronomi telah memahami secara persis mengapa planet-planet tampak melakukan gerakan tersebut di langit Bumi, dan hal tersebut telah diajarkan di sekolah dasar. Namun, tampaknya seseorang yang kurang menangkap pelajaran dari guru dengan baik, membuat cocologi gagal seperti dalam kliping berikut:

Berdasarkan penalaran si pencocologi, karena planet Mars di langit tampak bergerak ke arah barat dan bukan timur seperti biasanya, hal yang sama juga akan terjadi pada Bumi, sehingga Matahari akan terbit dari Barat dalil hadith tentang hal tersebut telah terjadi. Seperti yang sudah ditekankan, pembuat cocologi ini sayangnya sama sekali tidak paham tentang perihal gerak retrograde tampak, sehingga cocologinya sangat mudah dibantah.
Sang pembuat cocologi mengira bahwa Mars sungguh bergerak ke arah sebaliknya saat terjadi gerak retrograde tampak di langit Bumi. Kalau hal ini benar, maka kita sedang melihat pelanggaran hukum fisika dan gravitasi yang sangat besar, karena semenjak awal terbentuknya alam semesta, semua planet di Tata Surya mengorbit Matahari mengikuti arah rotasi Matahari.[1] Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Bayangkan dua mobil sedang memutari bunderan Hotel Indonesia secara terus menerus. Kedua mobil ini memiliki kecepatan yang sangat lambat seperti dalam film The Matrix, namun mobil yang satu bergerak lebih cepat daripada mobil yang lain. Anda sedang berdiri di mobil yang lebih cepat, dan mengamati pergerakan mobil yang lambat. Awalnya Anda masih di belakang mobil lambat, sehingga mobil tersebut tampak bergerak maju. Namun, pelan-pelan karena mobil Anda lebih cepat, Anda menyusul mobil lambat itu, sehingga dalam prosesnya mobil itu tampak bergerak mundur. Setelah mobil itu tersusul, mobil itu baru akan tampak bergerak maju lagi. Kurang lebih ilustrasi nyatanya seperti ini:

Gerak retrograde tampak Mars merupakan konsekuensi dari perputaran planet Bumi yang lebih cepat dari Mars. Mars tidak sungguh berhenti dan bergerak mundur; jikalau terjadi ini adalah pelanggaran hukum alam yang besar. Maka, gerak retrograde tampak hanyalah ILUSI, sehingga klaim bahwa Bumi juga akan sungguh bergerak ke arah berlawanan juga salah, dan akibatnya Matahari tidak akan terbit dari Barat [di langit Bumi] bahkan sampai Matahari sudah kehabisan bahan bakar hidrogen dan menjadi lubang hitam.
Catatan kaki
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Retrograde_motion#Earth_and_the_planets
oleh Studens Philosophiae

Sebuah artikel cocologi yang berjudul Otak Besar Bagian Korteks Prefrontal Diceritakan Qur’an mengklaim bahwa nashiyah atau ubun-ubun dalam ayat berikut merujuk kepada korteks prefrontal dalam neurosains modern: “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubun (nashiyah)-nya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” (Quran Surat Al-Alaq ayat 15-16). Penulis membuka dengan pertanyaan retoris, “Apa maksud ayat Qur’an diatas? Kenapa ubun-ubun yang ditarik sebagai balasan orang kafir tersebut?”, lalu memaparkan penjelasan neurosaintifik, dan akhirnya mencocologikan peran pengaturan emosi dan perilaku dalam korteks prefrontal dengan paparan ayat mengenai penarikan nashiyah dan dusta.
Mari kita mulai dengan menjawab pertanyaan retoris si penulis dengan benar. “Kenapa ubun-ubun yang ditarik sebagai balasan orang kafir tersebut?” Karena itu tanda penghinaan dalam bahasa Arab. Frase “Nasfa’a l-naas.iyatan” dalam bahasa Arab itu dalam konteks sehari-hari bermakna “menarik ubun-ubun kuda ketika menungganginya”. Jelas tujuan dari ayat ini adalah menghina dengan menyamakan orang kafir di akhirat itu tak ubahnya seperti hewan diperlakukan oleh para malaikat.
Selain itu, alasan mengapa ayatnya berbunyi “naa.s.iyatin kaadhibatin khaat.i’ah” adalah majaz pars pro toto, naas.iyah di sini mewakili seluruh badan. Mengapa pakai kata naa.siyah untuk mewakili? Karena ayat sebelumnya menggunakan kata itu juga sehingga menghasilkan efek harmoni.
Apakah valid menganggap kata naas.iyah di sini merujuk kepada lobus frontalis? Tidak. Karena penjelasan majazinya sudah cukup menjelaskannya sehingga dalam prinsip lex parsimoniae dalam berlogika, hipotesis “merujuk kepada lobus frontalis” gugur. Selain itu, kalau kita rujuk kepada ayat-ayat lain di Al-Qur’an serta referensi lain di Hadith, justru proses-proses sikap dan prilaku itu diasosiasikan dengan hati (qalb).
Secara metodologi tafsir bi l-ma’thur ala Ibnu Kathir, yang merupakan metode paling otentik dalam menghasilkan tafsir, hipotesis “merujuk kepada fungsi lobus frontalis” juga gugur karena tidak konsisten dengan ayat-ayat lain dan korpus hadith.
Contoh ayat-ayat yang bertentangan dengan penafsiran //bagian depan kepala (nashiyah) orang kafir tersebut dikatakan melambangkan sikap dusta dan durhaka/:
QS. 2:10
QS. 2:74
QS. 2:204
QS. 2:225
QS. 2:283
QS. 3:90
QS. 3:156
QS. 3:167
QS. 4:63, dll. Terlalu banyak jika dicantumkan.
Sementara dari hadith:
Sahih Al-Bukhari
// (4) Narrated Anas: The Prophet said, “Whoever said “None has the right to be worshipped but Allah and has in his heart good (faith) equal to the weight of a barley grain will be taken out of Hell. And whoever said: “None has the right to be worshipped but Allah and has in his heart good (faith) equal to the weight of a wheat grain will be taken out of Hell. And whoever said, “None has the right to be worshipped but Allah and has in his heart good (faith) equal to the weight of an atom will be taken out of Hell.” (Book #2, Hadith #42)//
//
(6) Narrated An-Nu’man bin Bashir: I heard Allah’s Apostle saying, ‘Both legal and illegal things are evident but in between them there are doubtful (suspicious) things and most of the people have no knowledge about them. So whoever saves himself from these suspicious things saves his religion and his honor. And whoever indulges in these suspicious things is like a shepherd who grazes (his animals) near the Hima (private pasture) of someone else and at any moment he is liable to get in it. (O people!) Beware! Every king has a Hima and the Hima of Allah on the earth is His illegal (forbidden) things. Beware! There is a piece of flesh in the body if it becomes good (reformed) the whole body becomes good but if it gets spoilt the whole body gets spoilt and that is the heart. (Book #2, Hadith #49)//
oleh Studens Philosophiae

Ada sebuah cocologi yang mencocok-cocokan ayat dalam Al-Furqan 53 dan Ar-Rahman 19-20 dengan sebuah fenomena di antara Sungai Nil dengan Laut Merah seperti yang tampak pada gambar di atas. Ayat Al-Furqan berbunyi, “Dan Dialah (Allah) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang satu tawar dan segar dan yang lainnya asin. Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus”, sementara ayat Ar-Rahman berbunyi “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Bahkan ada yang mengklaim bahwa konon seorang ilmuwan menjadi mualaf karena Al-Quran sudah menjelaskan fenomena tersebut sementara ia masih menelitinya. Cocologi serupa juga diterapkan untuk tempat lain, seperti di Selat Gibraltar.
Sayangnya ada fakta sains (entah diabaikan atau memang tidak tahu) yang akan meruntuhkan cocologi ini. Foto di atas kalau dilihat secara superfisial memang seakan ada pembatas sehingga kedua air (asin dan tawar) tidak bercampur (لا يبغيان). Namun pada kenyataanya melalui penelitian, air laut yang asin dan air sungai yang tawar itu bercampur dan daerah pencampuran ini disebut ‘estuary’. Jika laut, salinitasnya 35, sementara air tawar tingkat salinitasnya 0,5. Tapi di daerah estuary itu selalu antara dua angka tersebut.
Selain itu, di foto tersebut estuary sungai Nil tidak membentuk batasan yang permanen dengan Laut Merah, tetapi hanya merupakan perbedaan tingkat salinitas yang sementara dan air laut beserta garamnya bercampur dengan air tawar yang mengalir dari Nil secara perlahan-lahan.
Maka ayatnya menjadi salah, dan cocologinya patut ditolak.
Untuk mempelajari lebih lajut tentang lingkungan estuary bisa disimak tautan berikut: http://fds.oup.com/www.oup.com/pdf/13/9780198525080.pdf
Disadur dari http://www.unchangingword.com/beyondbucailleism.php

Maurice Bucaille & Dr Keith L. Moore telah memopulerkan gagasan bahwa Quran secara ajaib telah menjelaskan tahap-tahap embrio:
Maka berdasarkan Qur’ān ada lima tahap:
Menurut para pencocologi, karena tahap-tahap tersebut baru diketahui satu abad lalu, Quran telah memprediksi embriologi. Namun, karena “gumpalan darah” tak dapat menjelaskan tahap embriologis manapun, Bucaille mengemukakan bahwa ‘alaqa (عَلَق) bermakna “sesuatu yang melekat” atau “substansi yang seperti lintah.”
Ada banyak masalah dengan argumen ini:
1. Berdasarkan sejarah, tahap-tahap ini sudah diketahui sejak lama. Tulisan Hippocrates, Aristoteles dan Galen menjelaskan tahap yang sama: sperma, darah menstrual, daging, tulang, lalu daging tumbuh di sekitar tulang. Sains Yunani cukup dikenal di Arabia, dan sahabat nabi Harith ben Kalada belajar kedokteran di Jundi-Shapur, sehingga mengenal gagasan Aristoteles, Hippocrates dan Galen.
2. Kedua, kata ‘alaqa (عَلَق) sejara historis bermakna “gumpalan darah” dan bukan seperti yang dikemukakan oleh Bucaille. Hal ini sesuai dengan deskripsi orang Yunani Kuno, namun tidak sesuai dengan deskripsi ilmiah saat ini. Baik Ibnu Sina dan Ibnu Qayyim memahami ‘alaqa sebagai gumpalan darah, dan begitu pula semua penerjemah selama 400 tahun terakhir.
3. Ketiga, embriologi modern menyatakan bahwa massa otot muncul sebelum tulang dikalsifikasi/mengalami pengapuran. Tulang tidak “dibungkus dengan daging”, namun muncul dan mengeras dalam massa otot yang sudah ada.
4. Hadist Bukhari menambah tahap pengembangan embrio dan menyatakan bahwa tahap satu, dua, dan tiga masing-masing berlangsung selama empat puluh hari.1 Bahkan Dr Bucaille harus mengakui bahwa “deskripsi embrio ini tidak sesuai dengan data modern.”2
Catatan kaki
1 Sahih Bukhari, Volume 4, Book 54, Number 430; Sahih Muslim, Book 33, Number 6390.
2 Bucaille, The Bible, the Qur’an and Science, hal.245.
Disadur dari http://www.unchangingword.com/beyondbucailleism.php

Zakir Naik dalam bukunya The Qur’an and Modern Science: Compatible or Incompatible? mengklaim bahwa:
Firman Allah SWT :
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari bercahaya (sirojan) dan bulan yang meminjam cahayanya (Muniraa)”. (Q.S. Furqon : 61 )Dalam Al-Qur ‘an Matahari “As-Syams” selalu menggunakan kata “siroja” yang artinya obor , “dhiya a” artinya cahaya kemuliaan atau “wahaj” yang berarti lampu yang hidup (pen-“wahaj di gunakan di ayat lain) Sedangkan untuk Bulan (Qomar) menggunakan kata “Nur” yang artinya pantulan cahaya, “Munira” yang artinya badan yang mengeluarkan Nur. Ini membuktikan bahwa Quran sudah mengenali perbedaan antara cahaya Matahari dan Bulan.
Pertama-tama, fakta ini telah diketahui ribuan tahun sebelum Muhammad lahir. Saat Aristoteles (384-322 SM) mendiskusikan bentuk Bumi, ia membuktikan kebulatannya dengan menunjukkan bahwa selama gerhana Bulan bayangan Bumi dapat terlihat di Bulan. Berabad-abad sebelum Muhammad, orang Yahudi sudah mengetahui bahwa Bulan hanya “meminjam cahaya” dari Matahari (Philo, abad ke-1), dan bahwa “cahaya Bulan pasti berasal dari cahaya Matahari” (Midrash Hagadol, pertengahan abad ke-1)
Kemudian, masalah terbesar dalam argumen Naik adalah bahwa makna nūr (نُور) itu hanyalah “cahaya”; tidak ada implikasi “pantulan” di kamus atau leksikon Arab manapun. Maka Naik telah membuat redefinisi baru yang tidak sesuai dengan makna Quran yang sesungguhnya.
Apabila kita tetap menggunakan redefinisi Naik, maka Allah yang memiliki sifat an-Nur berarti hanyalah sekadar “cahaya pantulan”, sementara Muhammad yang dijuluki “cahaya (siraj) yang menerangi” di Surah 33:46 merupakan sumber cahayanya. Akibatnya redefinisi ini absurd dan patut ditolak.